Bagikan:

JAKARTA – Lebih dari 2.000 orang dipastikan tewas setelah gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 dan 6,4 meluluhlantakkan Myanmar pada 28 Maret lalu. Selain Myanmar, gempa tersebut juga mengguncang Thailand dan wilayah selatan China.

Para ahli penyelamat yang berdatangan dari berbagai negara mengatakan bahwa 72 jam pertama setelah bencana adalah “masa emas” penyelamatan. Selebihnya, mereka lebih banyak berhadap pada mujizat. Setelah tiga hari peluang hidup pada korban yang masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan semakin tipis, karena persedian air yang berkurang.

Pusat gempa berada di Provinsi Sagaing, dengan kota terbesar adalah Mandalay. Kota terbesar kedua di Myanmar setelah Yangoon itu dipadati 1,5 juta penduduk. Tindakan penyelamatan semakin sulit karena Jembatan Yadanabon yang melintasi Sungai Irrawaddy terputus akibat gempa.

Pemerintahan junta militer Myanmar telah meminta gencatan senjata dengan pihak-pihak pemberontak, serta membuka diri untuk bantuan asing. Sikap tersebut nyaris mustahil diambil pemerintah Myanmar yang dipimpin Jenderal Min Aung Hlaing dalam kondisi normal.

Bencana gempa bumi tersebut merupakan yang terdahsyat dialami Myanmar sejak bertahun-tahun lalu. Di saat negeri Sejuta Pagoda tersebut dilanda perang saudara sejak 2021 yang menghancurkan berbagai sendi kehidupan, bencana alam dahyat tetiba datang.

Data pemerintah Myanmar menyebutkan ada 2.056 orang tewas dan 3.900 luka-luka, serta 300 lainnya belum ditemukan. Namun menurut United States Geological Survey (USGS) yang dikutip CNN, dengan melihat kekuatan gempa dan kerusakan yang sangat masif bukan mustahil korban tewas di Myanmar mencapai lebih dari 10 ribu orang.