JAKARTA - Neuropati perifer terjadi ketika saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang (saraf perifer) mengalami kerusakan. Kondisi ini sering menyebabkan kelemahan, mati rasa, dan nyeri, terutama di tangan dan kaki. Neuropati juga bisa memengaruhi fungsi tubuh lainnya, seperti pencernaan dan buang air kecil.
Dilansir dari laman Mayo Clinic, sistem saraf perifer berfungsi mengirimkan informasi dari otak dan sumsum tulang belakang (sistem saraf pusat) ke seluruh tubuh melalui saraf motorik. Saraf perifer juga mengirimkan informasi sensorik ke sistem saraf pusat melalui saraf sensorik.
Neuropati perifer bisa disebabkan oleh cedera, infeksi, masalah metabolisme, faktor keturunan, atau paparan zat beracun. Penyebab paling umum adalah diabetes.
Penderita neuropati perifer sering menggambarkan nyeri sebagai rasa menusuk, terbakar, atau kesemutan. Gejala bisa membaik jika penyebabnya dapat diobati. Obat-obatan juga bisa membantu mengurangi rasa sakit akibat neuropati perifer.
Gejala
Setiap saraf dalam sistem saraf perifer memiliki fungsi tertentu, sehingga gejala tergantung pada jenis saraf yang terkena. Saraf dibagi menjadi tiga yakni saraf sensorik, motorik, dan otonom.
Saraf sensorik, yakni menghantarkan sensasi seperti suhu, nyeri, getaran, atau sentuhan dari kulit. Lalu, Saraf motorik, yaitu mengontrol pergerakan otot. Terakhir, saraf otonom yang mengatur fungsi tubuh seperti tekanan darah, keringat, detak jantung, pencernaan, dan fungsi kandung kemih.
Gejala neuropati perifer bisa meliputi:
- Mati rasa, kesemutan, atau rasa tertusuk di kaki atau tangan yang bisa menyebar ke lengan dan kaki.
- Nyeri tajam, berdenyut, atau terasa terbakar.
- Sensitivitas tinggi terhadap sentuhan.
- Nyeri saat melakukan aktivitas yang seharusnya tidak menyakitkan, misalnya nyeri pada kaki saat berdiri atau ketika tersentuh selimut.
- Gangguan koordinasi dan sering terjatuh.
- Kelemahan otot.
- Merasa seperti memakai sarung tangan atau kaus kaki padahal tidak.
- Kesulitan bergerak jika saraf motorik terpengaruh.
Jika saraf otonom terkena, gejala yang dialami adalah tidak tahan terhadap panas, berkeringat berlebihan atau justru tidak berkeringat sama sekali, masalah pencernaan, kandung kemih, atau buang air besar, dan penurunan tekanan darah yang menyebabkan pusing atau rasa melayang.
Neuropati perifer bisa memengaruhi satu saraf saja (mononeuropati), dua atau lebih saraf di area berbeda (multiple mononeuropati), atau banyak saraf sekaligus (polineuropati).
Sebagian besar penderita mengalami polineuropati, dan salah satu contoh mononeuropati adalah sindrom lorong karpal (carpal tunnel syndrome).
Penyebab
Kerusakan saraf pada neuropati perifer bisa disebabkan oleh berbagai kondisi, diantaranya:
- Penyakit autoimun
Penyakit autoimun seperti sindrom sjogren, lupus, rheumatoid arthritis, sindrom Guillain-Barre, penyakit inflamasi saraf kronis (CIDP), vaskulitis (peradangan pembuluh darah), hingga beberapa jenis kanker yang berhubungan dengan sistem imun (sindrom paraneoplastik)
BACA JUGA:
- Diabetes dan sindrom metabolik, yang menjadi penyebab paling umum. Lebih dari setengah penderita diabetes mengalami neuropati.
- Infeksi, seperti penyakit lyme, cacar ular (herpes zoster), hepatitis B dan C, kusta, difteri, serta HIV
- Penyakit keturunan, seperti Charcot-Marie-Tooth.
- Tumor, baik yang ganas (kanker) maupun jinak. Hal ini bisa menekan saraf. Gangguan sumsum tulang, seperti monoclonal gammopathy (protein abnormal dalam darah), mieloma multipel (kanker darah yang menyerang tulang), limfoma, dan amiloidosis (penumpukan protein abnormal dalam tubuh)
- Penyakit lainnya, seperti penyakit ginjal atau hati, hingga hipotiroidisme (tiroid kurang aktif)
- Kecanduan alkohol, yang menyebabkan kekurangan vitamin penting bagi saraf.
- Paparan zat beracun, seperti bahan kimia industri dan logam berat (timbal, merkuri).
- Efek samping obat, terutama kemoterapi untuk kanker. Cedera atau tekanan pada saraf, misalnya akibat kecelakaan, jatuh, atau gerakan berulang seperti mengetik.
- Kekurangan vitamin, terutama vitamin B-1, B-6, B-12, tembaga, dan vitamin E.
Faktor Risiko
Beberapa kondisi yang meningkatkan risiko neuropati perifer meliputi diabetes yang tidak terkontrol dengan baik, konsumsi alkohol berlebihan, kekurangan vitamin, terutama B-12, infeksi tertentu (Lyme, herpes zoster, hepatitis B/C, HIV), penyakit autoimun (rheumatoid arthritis, lupus).
Lalu, gangguan ginjal, hati, atau tiroid, paparan zat beracun, gerakan berulang dalam pekerjaan tertentu, dan riwayat keluarga dengan neuropati.
Komplikasi
Neuropati perifer dapat menyebabkan:
- Luka dan infeksi pada kaki akibat berkurangnya sensasi rasa sakit.
- Cedera yang tidak disadari, terutama pada bagian tubuh yang mati rasa.
- Risiko jatuh, akibat kelemahan otot dan gangguan keseimbangan. Menggunakan pegangan tangan di kamar mandi, tongkat, atau berjalan di tempat yang cukup terang dapat membantu mengurangi risiko jatuh.
Pencegahan
Cara terbaik untuk mencegah neuropati perifer adalah dengan mengontrol kondisi medis yang menjadi penyebabnya. Beberapa kebiasaan yang mendukung kesehatan saraf meliputi:
- Makan makanan bergizi, kaya akan buah, sayur, biji-bijian, dan protein tanpa lemak. Pastikan cukup vitamin B-12 dari daging, ikan, telur, produk susu rendah lemak, atau sereal yang diperkaya vitamin B-12. Jika Anda vegetarian atau vegan, pertimbangkan suplemen B-12 sesuai rekomendasi dokter.
- Olahraga teratur, setidaknya 30–60 menit selama tiga kali seminggu sesuai anjuran dokter.
- Hindari faktor yang merusak saraf, seperti gerakan berulang, paparan bahan kimia beracun, merokok, dan konsumsi alkohol berlebihan.