Bagikan:

JAKARTA - Kunto Aji melalui cuitan di akun X miliknya, mencoba memberikan pandangan terhadap kisruh royalti performing rights yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir

Dalam penjelasan awal, penyanyi-penulis lagu 38 tahun itu mengatakan, perlunya untuk menerangkan kisruh terkait royalti dengan cara yang sederhana.

“Dari kemaren gak ngomong soal ribut-ribut royalti ini, karena menurutku ada isu yang lebih penting. Kali ini, sekali aja mencoba menjelaskan agar mudah dimengerti,” kata Kunto Aji, mengutip cuitan di X, Selasa, 1 April.

Kunto memilih untuk menggunakan analogi sepak bola. Ia merasa analogi tersebut dapat menberi penjelasan yang lebih sederhana.

Dalam penjelasannya, Kunto mengibaratkan para pemain sepak bola sebagai musisi, dimana defender (pemain bertahan) sebagai penulis lagu dan striker (pemain menyerang) sebagai penyanyi atau penampil. Sementara, wasit dalam sepak bola diibaratkan sebagai regulator dan pelaksana untuk mengelola royalti performing rights.

“Bayangkan dalam satu team sepakbola ada striker dan defender. Masing-masing memiliki perannya. Di dalam pertandingan tujuannya adalah mencetak skor, tapi team ini dicurangi wasit. Setiap 3 gol yang kita cetak, 2 gol pasti dianulir. Sehingga kita hanya mendapat 1 skor, untuk 3 kali gol,” kata Kunto.

“Dan ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Diprotes berkali-kali tidak kunjung ada hasilnya. Di satu titik, akhirnya beberapa pemain marah, mengatasnamakan defender membentuk subteam A, dan menuntut untuk mengambil peran wasit menentukan skor,” sambungnya.

Kinto menuturkan, para pemain lain mengeluhkan cara subteam A yang mencoba mengambil peran wasit. Mereka merasa cara tersebut tidak sesuai, hingga akhirnya protes dilayangkan ke federasi yang berwenang.

“Cara ini tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Mereka ingin ada peraturan baru. Beberapa pemain menolak cara ini (didalamnya terdapat striker dan defender lain). Mereka menempuh cara lain mendapat keadilan dengan mendatangi dan mengirim surat langsung ke federasi. Menempuh cara yang sesuai birokrasi,” tutur Kunto.

“Sayangnya isu ini menjadi ramai karena pemain di subteam A, justru mengkonfrontasi pemain lain yang tidak setuju dengan cara mereka. Dan menempatkan posisi pemain-pemain ini sebagai bagian dari kecurangan sekaligus tidak peduli pada team. Kemarahan subteam A valid, walaupun solusinya dipertanyakan. Tapi sekali lagi, ini bukan Defender vs Striker. Ini adalah Pemain vs Wasit yang curang,” imbuhnya.

Dalam penjelasan lanjutan, pelantun “Rehat” itu menyebut analogi tersebut tidak untuk menyederhanakan kisruh soal royalti. Namun ia menegaskan, permasalahan ini tidak seharusnya mempertentangkan para musisi.

“Ini jelas oversimplified ya, karena isunya bukan sesederhana mencetak gol dan banyak teori konspirasi di belakangnya. Tapi intinya ini,” pungkasnya.